6 September 2020

[Review Buku] Lost and Found by Fanny Hartanti

 

novel metropop lost and found fanny hartanti

Judul Buku : Lost and Found

Pengarang : Fanny Hartanti

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 2016

ISBN : 978-602-03-2769-3

Tebal : 248 halaman

Genre : Novel Metropop

Rating : 3,5/5 bintang

 

Blurb Buku :

Rachel tak sengaja meninggalkan organizer-nya di taksi, padahal di dalamnya berisi paspor, SIM, dan KTP. Akibatnya dia batal melakukan liputan ke Singapura dan terpaksa merelakan rivalnya, Amy, bertugas menggantikannya.

Andy menemukan organizer tersebut, tapi kesalahpahaman terjadi sehingga dia tidak pernah mengembalikan benda itu pada Rachel.

Takdir mempertemukan Andy dengan Rachel dan cinta pun tumbuh. Namun, rahasia dan luka masa lalu menghalangi kebersamaan mereka. Apakah cinta cukup untuk mengisi apa yang pernah hilang dalam hidup mereka?

 

***

Lost and Found will make you think you are there, with the characters, in every scene. Love the story so much!Adhitya Mulya

Novelnya fresh dan bikin nggak bisa berhenti baca. – Rina Suryakusuma

Lost and Found adalah salah satu yang terbaik dari Fanny. – Ninit Yunita

 

Resensi Buku :

Rachel seorang reporter yang bekerja di majalah wanita POSH.  Suatu hari, saat ia berada di taxi yang ditumpanginya, ia kehilangan organizer berisi KTP, Paspor, SIM, tiket pesawat dan data-data untuk artikel liputan ke Singapura yang akan dibuatnya. Semua barang berharganya hilang bersamaan dengan raibnya organizer hijau itu.

 

“Welcome back to reality. There’s not much I can do now. Ke Singapura gagal. Kantor imigrasi juga nggak buka. Kantor kelurahan tutup. Mending bobo lagi, biar nggak stress.” (hlm. 31)

 

Gara-gara organizernya hilang, Rachel hampir dipecat dan kehilangan kesempatan untuk meliput acara di Singapura. Sialnya, tak ada satu pun orang yang menemukan organizer itu, hingga kemudian Rachel mendapatkan pesan dari seorang cowo yang mengatakan bahwa ia menemukan organizer miliknya. Cowok itu berniat akan mengembalikan barang miliknya. Namun, janji tinggal janji. Orang itu tak pernah muncul di hadapan Rachel.

 

“Biar aja cewek itu menunggu. Toh dia yang butuh. Lagian kenapa juga mesti buru-buru. Kan cuma organizer yang hilang. Bukan sesuatu yang penting macam dompet atau laptop. Sekalian kasih pelajaran buat cewek itu supaya memperlakukan orang dengan lebih baik. Tidak semua orang  yang mau membantu itu mengharapkan imbalan atau bisa diperintah seenak jidat.” (hlm. 34)

 

Kekacauan dalam hidupnya dimulai. Rachel tak bisa menyetir karena SIM nya belum ditemukan hingga ia membuat SIM yang baru. KTP nya hilang, ia tak bisa meliput. Tiket pesawatnya hangus. Yang lebih parah lagi, ia hampir saja kehilangan kepercayaan bossnya, mba Lady.

 

“Mbak Lady bilang jika Rachel ingin mendapat kesempatan kedua, maka ia harus menanggalkan sikap kekanak-kanakannya dan menunjukkan dirinya siap bekerja keras. Ia harus mampu membuktikan dirinya benar-benar menginginkan profesi ini, bukan sekadar ikut-ikutan demi mewujudkan impian masa kecil.” (hlm. 51)

 

“No more playing game, Rachel. Saya beri kamu kesempatan terakhir. You better earn it!” (hlm. 51)

 

Sejak dulu, mba Lady selalu memberikan tugas yang dapat dikerjakan Rachel karena percaya gadis itu bisa bekerja dengan baik. Artikel buatan Rachel selalu mendapat pujian mba Lady. Namun kini, Rachel dimarahi habis-habisan karena ia menghilang tanpa kabar. Padahal mba Lady minta jika ada urusan urgent terkait pekerjaan, ia bisa dihubungi kapan pun.

 

“Mendadak kepercayaan dirinya luntur. Rachel belum pernah berada dalam posisi  seperti ini. Kemampuan dan komitmennya diragukan, bukan hanya oleh orang lain tapi juga oleh dirinya sendiri. Tiba-tiba ia menyadari, betapa selama ini ia begitu mudah mendapatkan apa yang dia mau, tanpa perlu bersusah payah.” (hlm. 52)

 

Andy, cowok yang menemukan organizer Rachel malah jatuh cinta dengan gadis itu saat melihat gambar-gambar yang ada di organizernya. Andy berpikir akan mengembalikan organizer itu siang hari. Namun ia tak tahu bahwa organizer itu sangat penting bagi Rachel. Suatu hari, Andy berjanji akan bertemu dengan Rachel. Namun, yang terjadi adalah pertengkaran dengan pertengkaran karena Andy tak sengaja menabrak Rachel hingga dua kali.


Baca juga : [Resensi Buku] Ten Years Challenge by Mutiarini


Rachel marah karena Andy menabraknya. Saat ia kembali galau karena tak bertemu dengan laki-laki misterius itu, ia malah bertemu dengan Andy di parkiran. Andy menawarkan bantuan untuk mengantar Rachel jika gadis itu butuh tumpangan selama belum menemukan SIMnya.

 

“HAH? Jadi, lo tabrakan dua kali sama cowok ganteng, terus kalian berantem, terus lo nangis di mobil, terus itu cowok nyamperin lo, terus lo dianterin pulang, terus dia janji bakal anter-jemput lo dan jogging bareng sampai lo dapat SIM baru?”

“Iya, iya, iya, iya, iya, iya.”

“Gila, kok kayak sinetron banget?”

“Lo yakin dia beneran ganteng?”

“Yaelah, yang hilang kan organizer gue, bukan mata dan pikiran gue.” (hlm. 67)

 

Tak ayal, pertemuan demi pertemuan terjadi. Rachel jatuh cinta dengan Andy. Rachel bahkan dikenalkan dengan adik Andy, Emma. Rachel pun sempat ke luar negeri bareng dengan Andy dan Emma mengunjungi ayah Andy di Thailand. Hingga sebuah insiden muncul. Rachel tahu siapa Andy sebenarnya. Sejak itu, hubungan Andy dan Rachel di ambang kehancuran.

 

“Andy merasakan sakit di ulu hatinya. Ketakutannya selama ini terjadi. Rachel mengetahui rahasia mereka, dan sekarang gadis itu terluka karenanya. Rasa bersalah menguasai sekujur tubuhnya. Ia ingin memeluk Rachel, menghapus air matanya, meminta maaf, dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.” (hlm. 183)

 

Rachel tak percaya seorang Andy bisa dengan mudah berbohong, padahal cowok itu tak suka berbohong karena ia trauma ayahnya pernah meninggalkan keluarganya demi perempuan lain. Andy tak habis pikir bagaimana ia bisa begitu pengecut tak mengembalikan organizer itu sendiri hingga barang itu hilang dan tak sampai di tangan Rachel. Padahal saat itu, Andy menitipkannya pada Emma. Lalu, siapa orang yang menemukan organizer itu?

Bagaimana kisah cinta Andy dan Rachel selanjutnya? Baca saja kisahnya di novel Lost and Found ini ya!

Baca juga : Book Review : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

***

 

Kesan saya tentang Buku Lost and Found :

Pertanyaan demi pertanyaan muncul saat saya membaca kisah Rachel ini. Awalnya, dikisahkan Rachel yang terlihat kekanakan saat kehilangan organizer hijau miliknya. Organizer itu tak hanya berisi data namun juga kartu identitas miliknya. Saking paniknya kehilangan semua kartu identitasnya, Rachel malah bersikap kekanakan karena tak tahu harus berbuat apa. Padahal dia bekerja di majalah yang terkenal dan harus segera membuat liputan di Singapura. Inilah titik awal kisah cinta Rachel dan Andy bergulir.

Keduanya sama-sama bersikap kekanakan. Hampir sepertiga kisah di novel Lost and Found ini berisi kegalauan Andy dan Rachel saling mencari dan menemukan. Berawal dari organizer lalu jatuh hati. Ya, siapa yang sangka justru orang yang menghilangkan organizerlah yang kelak akan menjadi kekasih Rachel.

Rachel marah pada Andy bukan hanya karena Andy berbohong, tapi karena banyak harapan yang telah timbul dalam hatinya tentang sosok cowok ini. Buatnya, Andy bukan hanya laki-laki biasa, namun bisa membuatnya bertumbuh jadi perempuan yang lebih dewasa.

 

 “Gue juga nggak ngerti kenapa gue justru bisa maafin Amy, yang dulu musuh bebuyutan gue sementara gue malah gak bisa maafin Andy. Tapi mungkin di situlah jawabannya. Amy bukan siapa-siapa buat gue. Gue juga nggak berharap banyak dari dia. Makanya mungkin jadi lebih mudah buat gue untuk maafin dia.

“Sementara itu Andy… Gue percaya dan saying sama dia. Gue tahu dia paling benci dengan kebohongan tapi dia justru tega ngebohongin gue… only people that matters to you that can hurt you that deep… itulah makanya gue sulit memaafkan dia. Justru karena dia berarti  sekali buat gue, dan dia udah menyakiti gue banget...” (hlm. 231)

 

Di novel Lost and Found ini juga, pembaca bisa menemukan bagaimana keteguhan hati Rachel saat harus berusaha mati-matian untuk memperjuangkan karirnya yang ada di ujung tanduk. Karir Rachel hampir saja tamat karena kecerobohannya dan sikap kekanakannya. Jika saja Rachel bisa segera datang ke kantor atau menghubungi mba Lady untuk melapor perihal kehilangan organizer beserta tanda pengenalnya, pasti mab Lady tidak akan semarah itu.

Masalahnya, Rachel dan Amy makin menjadi musuh bebuyutan. Itulah awal mula saat Amy dan Rachel justru saling beradu argument di depan mba Lady dan juga saling mencari kelemahan satu sama lain. Bahkan Amy mengajukan pada mba Lady artikel yang seharusnya dibuat oleh Amy. Namun, di sinilah letak serunya. Mba Lady terbukti mampu membuat keduanya mengalah dan berkolaborasi untuk menghasilkan karya bersama-sama.

Saya sampe mikir, kok mau sih Rachel dan Amy bareng-bareng kelarin satu project bareng. Haha. Asli, kalau saya lihat mereka berdua di kehidupan nyata udah jambak-jambakan kali ya. Wakakak. Soalnya dua-duanya sama-sama keras kepala dan tipikal nggak mau ngalah untuk urusan kerjaan. Wkwk. Saya jadi mikir, nih gimana cara mba Lady bisa ngajakin keduanya kolab bareng sampe bisa berdamai dengan diri sendiri. Asli, boss yang satu ini gokil parah dah! Hahaha

Di novel Lost and Found ini juga dibahas soal alasan kenapa Amy dan Rachel jadi rival. Amy menganggap Rachel bisa mendapatkan segalanya dengan mudah karena Rachel anak orang kaya. Padahal ada luka masa lalu Rachel yang ia simpan sendiri. Ia lebih memilih focus untuk karir dan masa depannya. Tapi orang lain justru iri atas keberhasilannya.

Well ya, di dunia nyata juga ada kan orang seperti Amy ini? Menganggap apa yangs udah kita kerjakan adalah buah yang dengan mudah diperoleh. Padahal untuk mendapatkan itu kita juga bekerja keras banting tulang. Cuma kan nggak keliatan aja, dan nggak dikasih tahu juga gedebrukannya gimana tiap hari untuk menyelesaikan semua kerjaan.

Yeah… I mean, kerja keras nggak akan mengkhianati hasil. Tapi, jangan iri dengan hijaunya rumput tetangga. Mungkin kamunya aja yang nggak pernah nyiram rumput kamu sendiri sampe rumputnya mati dan tanahnya gersang.

 

“Terkadang seseorang bisa begitu mudah menilai orang lain tanpa tahu cerita lengkap di baliknya. Padahal setiap manusia punya kisahnya sendiri.” (Hlm. 147)

 

Karakter Rachel, Andy dan Emma, adik Rachel bertumbuh seiring dengan masalah yang muncul. Selain itu, Andy juga mampu berdamai dengan masa lalu keluarganya, terutama ayah yang saat kecil sangat ia banggakan namun ternyata diam-diam menikah lagi. Andy yang paling benci kebohongan namun harus menelan pahit manis kehidupan yang nggak selalu berjalan seperti yang ia harapkan.

Rachel pun mampu menyelesaikan tugas-tugas kolaborasi yang diberikan oleh mba Lady hingga ia bisa mendapatkan kepercayaan bossnya kembali. Saya rasa nggak banyak orang yang bisa bangkit lagi setelah gagal.

Rachel sempat mau keluar dari POSH, tapi bossnya mba Tiwi malah bilang, “Belum tentu Rachel bebas berkarir di tempat lain tanpa ketemu Amy-amy lainnya yang akan menjegal karir Rachel.” Jadi, seharusnya masalah itu bisa bikin Rachel makin bijaksana dan dewasa menghadapi tantangan karir yang ada. Bukannya kabur, lari, menghindar dari masalah kantor, seperti saat ia kehilangan organizernya.

Ya… Dan akhirnya Rachel bisa membuktikan kalau ia bisa melakukan project anti mainstreamnya dengan Amy. Wkwk. Sungguh di luar dugaan sih. Asli, saya sampe bengong bayangin kok bisa dua orang musuh itu bisa akur. Lol.

 

“This is why they did it. For this victory feeling. Rasa kemenangan setelah berhasil mengalahkan musuh terbesarmu; dirimu sendiri. Keberhasilan untuk semua kerja keras, keringat, dan latihan selama berbulan-bulan. Melawan kemalasan, kesakitan, rasa capek, takut, frustasi, dan marah. Saat kamu membuktikan kalau kamu bisa. Mampu menyelesaikan apa yang kamu mulai. Sanggup menggapai apa yang kamu inginkan.” (hlm. 187)

 

Tapi, saya suka kisah dalam novel ini, idenya unik karena mengembangkan cerita yang sederhana dari kehilangan barang bisa sampai berujung pada perkembangan karir dan menemukan cinta sejati, hingga memaafkan masa lalu. But, saya agak geli ngebayangin kisseu di deket kuburan. Wkwk. Punteen, ini nggak ada tempat lain apa gimana ya? Hahaha. Overall, 3,5 bintang buat kisah Rachel dan Andy yang sungguh koplak. Wkwk. See you next post ya! ;)

4 comments:

  1. Bisa dimasukkan ke novel yang mengangkat dunia kerja nggak sih novel ini? Kalau memang ada perkembangan dalam karir Rachel di dunia kerjanya, berarti lumayan detail ya penggambaran dunia pekerjaannya. Sebab banyak juga novel yang menggadang-gadang dunia kerja (judul, blurb, bahkan kovernya) tetapi ceritanya kurang menggali dunia pekerjaan itu. sayang banget bukan?

    Kisses di dekat kuburan? Uhhh apa yang dirasa ya...

    ReplyDelete
  2. Hmm..jadi penasaran juga nih dg novel ini. Eh, sudah berapa lama ya aku nggak baca novel? Hihi.. Thx review-nya Ila..

    ReplyDelete
  3. Cukup lama memang tidak jalan-jalan mencari informasi dan referensi serta menjalin silaturahmi.

    Salam dari pamekasan madura

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^