27 September 2020

[Resensi Buku] Sungguh Kau Boleh Pergi by Tere Liye | Buku Kumpulan Sajak Cinta

 


Judul Buku : Sungguh Kau Boleh Pergi

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 2019

Tebal : 96 halaman

Genre : Buku Kumpulan Sajak

Harga : Rp 95.000

ISBN : 9786020636153

Rating : 3/5 bintang

Baca Ebook Sungguh Kau Boleh Pergi di aplikasi Gramedia Digital

 

Blurb Buku Sungguh Kau Boleh Pergi – Tere Liye :

 

Apalagi urusan perasaan

Cinta bisa berganti benci

Percaya memudar berganti kusam ragu

Pun komitmen menipis berubah jadi lupa

 

Tapi aku akan tetap di sini

Meyakini bahwa

Besok pagi, malam pun akan berganti siang

Mawar baru akan merekah ulang

Dan hujan berikutnya pasti akan datang

 

Kau sungguh boleh pergi.

 

Buku ini adalah buku kedua kumpulan sajak Tere Liye dengan ilustrasi terbaiknya. Buku pertamanya masuk dalam daftar salah satu buku sajak paling laris di Indonesia. Hadiahkan sajak-sajak ini untuk orang yang paling kita sayangi, agar kita bisa saling memahami.

 

Resensi Buku Sungguh Kau Boleh Pergi – Tere Liye :

 

Buku Kumpulan Sajak Tere Liye berjudul “Sungguh Kau Boleh Pergi” merupakan buku kumpulan sajak kedua yang diterbitkan Gramedia. Awalnya, buku ini ditujukan sebagai jembatan bagi pembaca pemula dan akan diterbitkan tiap dua tahun sekali. Namun, buku ini baru diterbitkan setelah menimbang selama 5 tahun respon pembaca pada karya sebelumnya.


Baca juga : [Resensi Buku] Dikatakan atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta by Tere Liye


Anyway, karya Tere Liye untuk buku kumpulan sajak memang bukan berbentuk sastra yang menggunakan diksi melangit alias susah dicerna. Tidak. Sajak ini masih menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Tujuannya agar pembaca pemula lebih mudah memahami. Selain itu, buku ini bisa jadi jembatan bahwa membaca bisa jadi kegiatan yang menyenangkan.

         

          “Hari ini, generasi muda kita lebih suka kalimat-kalimat pendek, singkat, instan, gambar-gambar, video, bahkan cukup emoticon. Selesai. Lantas, apakah mereka bisa langsung dipaksa membaca karya-karya sastra, puisi-puisi kelas berat? Tidak bisa. Jangankan mau baca, menengok pun mereka tak mau. Mereka membutuhkan ‘jembatan’, sebuah perkenalan menarik, hingga tergerak melangkah lebih jauh. Itulah kenapa buku sajak kami dirilis, agar menjadi salah satu alternatif jembatan itu. Buku tersebut tidak pernah diniatkan sebagai karya sastra hebat, masterpiece, dan sebagainya.” (hlm. 9)

 

Kumpulan Nasihat dalam Sajak yang Ditulis Tere Liye

 

                Awal saya baca buku kumpulan sajak pertama berjudul Dikatakan atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta memang bagus. Maksudnya, nggak yang norak gimana gitu ya. Meskipun pakai bahasa sederhana, tapi maknanya mengena di hati. Selain itu juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik.

 

             Nah, di buku kedua ini, Tere Liye lebih banyak memberikan nasihat dalam bentuk sajak. Well ya, terdengar menggurui memang, tapi illustrasi buku Sungguh Kau Boleh Pergi ini sangat bagus. Jadi, kalau kamu suka dengan potongan sajaknya, kamu bisa memotret buku, lalu upload foto flatlay di instagram. Buku ini cukup instagramable lho, jadi nggak rugi sih kalau mau posting di instagram. Walaupun pasti tanggapan orang beraneka ragam ya, termasuk mengaitkan buku ini dengan buku sastra.

 

Buku Sajak Sungguh Kau Boleh Pergi – Tere Liye Menyasar Pembaca Pemula dengan Diksi Sederhana dan Mudah Dipahami :

 

Buku sajak, puisi dan novel Tere Liye memang lebih banyak menyasar pembaca pemula, yang butuh bacaan ringan tapi mengesankan. Teman saya saja yang nggak suka baca buku senang dengan quotes Tere Liye yang diunggahnya di Fanpage Tere Liye. Saya pikir, kok bisa temen saya tumben banget mau baca buku. Ternyata dia hanya suka dengan quotes cinta dan quotes motivasinya. Tapi nggak baca buku karyanya. Quotes Tere Liye sering digunakan untuk membuat caption di instagram atau facebook. Ya, nggak papa juga ya. Namanya orang suka, bisa bermula dari hal sederhana seperti suka dengan quotes Tere Liye dulu, baru suka dengan karyanya.

 

 Quotes Tere Liye secara nggak langsung juga membuat pembacanya mau membagikan ke social media. Beda dengan novel lain yang nggak ada kalimat yang quoteable, biasanya nggak terlalu mengesankan. Nah, kalau ada quotesnya, orang juga bisa tahu, oh saya ingat nih pernah baca quotes itu di mana gitu, trus ingat quotes itu ada di novel apa. Selain itu juga karyanya bisa dikenal luas karena quotes cinta dan bijak ala Tere Liye dibagikan di social media dalam jumlah yang banyak oleh penggemar setianya.

 

Baiklah, saya bahas saja ya sajak mana yang saya suka dari 30 sajak di buku kumpulan sajak Sungguh Kau Boleh Pergi karya Tere Liye ini. Nanti, kalau kamu suka, kamu juga bisa menghadiahkan buku ini pada orang yang kamu sayangi. ;)


Baca juga : [Resensi Buku] #About Love - Kumpulan Quote Cinta Tere Liye


review dan sinopsis buku Sungguh Kau Boleh Pergi Tere Liye


 

Review Buku Kumpulan Sajak Sungguh Kau Boleh Pergi – Tere Liye :

 

Sajak Sunset

 

Saat senja datang

Apakah bui yang pergi meninggalkan

Atau matahari

Yang mengucapkan selamat tinggal

Saat purnama tinggi

Apakah Bumi yang menahan rindu

Atau rembulan yang menatap kangen?

 

Saat hujan turun,

Apakah Awan yang berlarian tak sabar

Atau Bumi yang menyambut riang?

 

Entahlah.

 

Saat dua sahabat lama bertemu

Siapa yang menunggu, siapa yang datang

Jika dua-duanya berpelukan erat.

 

Saat dua musuh berperang

Siapa yang memulai

Siapa yang mengakhiri

JIka dua-duanya sama-sama binasa.

 

Pun, saat sebuah hubungan terputus

Siapa yang pergi, siapa yang ditinggal

Jika dua-duanya sama-sama terluka

 

Entahlah

 

Sajak Sunset ini mengingatkan kita bahwa, apapun yang terjadi pada sebuah hubungan, momen merindukan dan dirindukan itu akan tetap ada. Baik siapapun yang mulai merasakannya lebih dulu. Siapa yang menang, siapa yang kalah, hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Dalam setiap hubungan pasti ada naik turunnya. Itu sebabnya, Sunset mengingatkan kita bahwa relationship yang terjalin bisa jadi hanya terjadi dalam waktu singkat. Singkat, muncul sejenak kemudian hilang dan binasa. Jadi, cintai seseorang secukupnya saja. Karena ia bisa hilang juga ditelan senja.

 

Baca juga : [Resensi Buku] Hujan by Tere Liye


Sajak Masbuloh
 

Saya memang masih jomblo

Terus kenapa?

Jodoh saya masih LDR, longdistance relationship.

Masih disimpan jauh sekali besok lusa, di masa depan

 

Saya memang belum menikah

Terus kenapa?

Yang terbaik selalu disimpan terakhir

Jangan selalu muncul di ujung-uung

Dan saya akan menunggu dengan sabar

 

Saya memang belum punya pasangan

Terus kenapa?

Saya memilih memperbaiki diri.

Fokus belajar dan bekerja

Maka yang terbaik akan datang sendiri.

 

Saya memang masih kondangan sendiri

Terus kenapa?

Besok lusa akan tiba gilirannya

Saya percaya dengan janji-janji terbaik

Dan doa-doa terbaik dari orang yang sungguh peduli

Bukan sekadar resek sibuk bertanya

Sambil tertawa cengengesan

Wajah sok akrab tapi sebenarnya meremehkan

 

Saya memang masih jomblo

Terus kenapa?

Masbuloh?

Masalah buat loh?

 

Bentar-bentar…. Sabaaaar… Jangan nyolot dulu abis baca sajak itu. Saya inget banget masbuloh ini merupakan kata-kata yang ngehits di sekitar tahun 2010-2013 an. Ya sekitar segituan ya. Inget banget karena ada temen yang ngomel di depan pintu kosan saya sambil ngomong masbuloh pake gaya ngegas. Padahal dia cewe yang umurnya jauh di bawah saya. Hmm, ya, kalau disikapi dengan hati dan kepala yang dingin, kata masbuloh nggak akan masuk ke hati. Tapi kalo pas lagi pengin ngomel-ngomel karena nggak sreg dengan omongan orang lain terhadap kita, bisa langsung ngegas dan kompornya meledak-ledak deh. Kebakaran deh. Bikin berabe. Ya, kan?

 

Nah, ya sama dengan yang dirasakan oleh Tere Liye sendiri. Di buku sajak sebelumnya sebenarnya penjualan cukup bagus, bahkan masuk best seller. Tapi kemudian ada kumpulan orang yang protes bahwa puisi dan sajak yang dibuat Tere Liye sama sekali nggak masuk kategori sastra alias kurang nyastra. Sejak itu, yang baca puisi Tere Liye dianggap kurang nyastra dan bikin mereka jadi nggak pede buat baca buku seperti itu lagi.


 Baca juga : [Resensi Buku] Bumi by Tere Liye


Well ya… Praktis, hal ini menghambat penjualan buku di cetakan berikutnya, bahkan di buku kedua ini yang berjudul Sungguh Kau Boleh Pergi pun penjualannya nggak sebagus sebelumnya. Memang kalimat yang digunakan bernada sindiran pada orang yang kurang suka dengan karyanya.

 

Hmm…. tapi kita kan bisa milih ya untuk menjadikan sindiran itu sebagai kritikan. Jika Tere Liye mau, dia bisa masukin diksi sajak yang lebih bagus, jadi level sajaknya bisa naik lebih tinggi, nggak perlu yang bahasanya sampai mendaki-daki atau melangit. Tapi paling nggak ya lebih bagus dibanding buku sebelumnya.

 

Namun, buku Sungguh Kau Boleh Pergi ini punya kekurangan yang menurut saya cukup fatal sih. Pemakaian diksinya masih sama seperti dulu. Malah kurang greget, alias lebih kerasa sindiran sama pembaca yang nggak suka karyanya alias haters Tere Liye. Ya, entahlah saya ngerasa karya ini seperti bentuk kemarahan alih-alih sebuah usaha untuk membuat karya yang diterima pasar.

 

Ya, masbuloh juga kalau misalnya karyanya nggak diterima pasar pun, buku-buku Tere Liye lainnya masih bisa masuk jajaran Best Seller dan langganan nangkring di buku rekomendasi Gramedia. Tapi tentu orang mau beli karena pengin tahu, buku ini worth it nggak sih, sesuai nggak dengan harganya?

 

Buat pembaca yang pengin tahu sebuah buku woth it atau nggak sebenarnya bisa numpang baca di Gramedia. Gramedia sering nyediain sample buku yang bakalan bisa dikonsumsi calon pembeli buku. Buku ini emang sengaja dibuka buat dijadiin display. Jadi daripada khawatir bukunya nggak sesuai, kamu bisa icip-icip dulu baca beberapa part buku tersebut di toko buku, atau bisa juga baca sample buku di Google Play Book. Google Play Book selalu berbaik hati ngasih sample atau contoh buku terlebih dulu sebelum kita memutuskan untuk membeli buku.

 

Apakah sajak Masbuloh bagus? Hmm, kalau melihat diskinya biasa aja ya. Tapi kalau melihat rentang waktu pembuatan karya ini sebelum memutuskan untuk diterbitkan, sajak Masbuloh ini merupakan cerminan social yang terjadi di kurun waktu pembuatan buku ini. DIbilang sebagai gambaran kritik social, ya bisa juga ya. Selain itu, ada juga beberapa quotes yang bisa dijadikan caption atau pengingat tentang hidup.

 

Quotes Tere Liye dalam buku Sungguh Kau Boleh Pergi :

 

Mata Air Perasaan.

Memiliki dan melepaskan

Berasal dari mata air perasaan yang satu

Hanya berbeda tujuan alirannya

Tapi sejatinya sama.”

 

“Belum Sembuh.

Ketika kita tidak bisa lagi mengingat sesuai itu dengan detail

Tapi entah kenapa tetap terasa sesak menyakitkan.”

 

“Cinta itu adalah bersabar, bukan tergesa-gesa.

Bersabar menunggu waktu terbaiknya

Bersabar menunggu orang paling tepat

Bersabar dengan cara paling mulia

Dan tentu saja

Bersabar atas setiap skenario yang terbaik.”

 

Kesimpulan :

Overall, apakah buku kumpulan sajak Sungguh Kau Boleh Pergi – Tere Liye ini worth it buat dibeli? Hmm, lumayan, kak. Saya kasih bintang 3/5 bintang untuk buku kumpulan sajak karya Tere Liye ini. Nah, kalau kamu gimana? Udah pernah baca buku Tere Liye? Share dong kesannya di komentar. :D


pic by twitter Gramedia dan https://www.bukalapak.com/products/s/sungguh-kau-boleh-pergi-kumpulan

1 comment:

  1. Bahasa sajaknya memang mudah dipahami, dan dari contoh sajak di atas, saya bisa mengerti maksud dari sajaknya. Sajak Masbuloh lumayan mengena untuk saya yang masih sendiri. Dan penilaian orang yang suka kepo dan reseh tanya kapan berpasangan, lumayan bikin hati mesti disabar-sabarkan.

    Saya pernah membaca beberapa judul buku karya Bang Tere Liye. Keunggulan novelnya, dramatis yang dihadirkan dari ceritanya bisa sangat terasa ke pembaca. Sedih, bahagia, kesal, menyebalkan, dan lainnya, bisa dirasakan juga oleh pembaca.

    Tapi sejak Bang Tere Liye bermaksud mogok menerbitkan novelnya ketika riuh soal pajak penulis, dan nyatanya masih menerbitkan novelnya, saya sedikit kurang respek, termasuk ke karyanya. Apa yang dilakukan beliau benar kok. Hanya saja, di mata saya kalau penulis itu harus membiarkan karyanya yang bersuara lantang, bukan keresehan pribadinya yang disuarakan. Apalagi ujungnya ternyata tidak sesuai yang disuarakan. Huft.

    Boleh atuh disanggah jika pendapat saya ini terlalu dangkal. Hehehe.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^