Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

25 December 2014

Resensi Buku : Best Seller Sejak Cetakan Pertama - Agus M. Irkham

Judul : Best Seller Sejak Cetakan Pertama
Penulis : Agus M. Irkham
Penerbit : Afra Publishing(Imprint Indiva Media Kreasi)
Terbit : Januari 2008
Tebal : 184 halm.
ISBN : 978-979-17461-2-0

Elan perbukuan hari ini menunjukkan pesona yang gemah ripah. Tren menerbitkan buku tak hanya mampir di kalangan penulis yang biasa menelurkan buku, namun juga hadir di kalangan artis maupun pejabat tinggi. Seolah, tren ini menunjukkan derajat intelektualitas seseorang. Tak menerbitkan buku, berarti tak gaul!

Ratusan buku lahir setiap bulan dari berbagai penerbit. Namun, geliat perbukuan memiliki sisi yang sering tak tersentuh. Pengetahuan tentang literasi itu sendiri sangat minim. Hal ini membuat kualitas perbukuan di Indonesia kurang bila dibandingkan di luar negeri. Buku ini menghadirkan sisi lain dari dunia literasi yang biasa diakrabi oleh penulis. Ada tiga bagian yang disajikan yaitu : dunia kecil yang begitu indah, mata baru komunitas literasi, dan bahaya bangsa tanpa minat baca.

Bagian pertama berkisah tentang suka duka yang terjadi di dunia literasi, baik yang dialami penerbit, penulis maupun orang-orang yang berkepentingan. Seperti pada judul artikel “Best Seller sejak cetakan pertama”. Strategi best seller sejak cetakan pertama lazim digunakan oleh penerbit cilukba, penerbit yang ingin menggaet pembaca dengan menempelkan label best seller meski hitungan best seller sendiri masih ambigu. Sebab, tidak tahu dari mana hitungan itu berasal.

“Dalam pandangan penerbit, best seller barangkali dianggap menjadi (salah satu) alasan utama orang membeli buku. Pamrihnya jelas, agar tidak dibilang kuper. Bisa ikut cuap-cuap. Aman secara sosial. Masyarakat cilukba gampang heboh, tapi juga mudah lupa. Masyarakat cilukba akhirnya memproduksi penerbit  cilukba pula. Yaitu penerbit yang hanya mau main aman saja. Termasuk kecenderungan menjadikan kata best seller, (seri) buku laris, sebagai magnet penjualan. Meski untuk itu ia menjadi penerbit yang tidak memiliki karakter/genre yang jelas.” (hlm. 15)

Ada pula artikel berjudul “Buku rasa komik yang seksi”. Buku ini memiliki kualitas yang bagus dan tingkat keterbacaan yang tinggi, karena menyasar segmen pembaca yang sangat terbatas. Misalnya saja buku Re-Code Change Your DNA yang ditulis Rhenald Khasali yang dijual seharga 150 rb. (hlm. 37)

Ada pula buku tentang menulis(buku) atau skill writing. Buku seperti ini sering dicari oleh para peminat literasi, yang ingin menjadi penulis berdedikasi. Pembaca yang tengah belajar menulis, mestinya sejak dini harus disapakan satu falsafah berkarya, seperti yang juga diakrabi penyair Rendra.

“Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tidak lagi merdeka tanpa beban sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata.”(hlm. 41)

Bahasan lainnya adalah bujuk rayu endorsment, buku antimarketing, buku-buku parenting, buku yang dibuat si lugu(buku anak), krisis buku pemikiran Islam, manajemen kurang ajar buku ajar, misteri harga buku, hingga ke(tidak)mungkinan menyatukan penulis.

Bagian kedua berjudul “mata baca komunitas literasi” berisi ragam komunitas literasi yang menggeliat seperti yang dilakukan klub pencinta perpustakaan SMUN 49 Jakarta, rumah belajar di lembah Dieng, hingga Mabulir(Majalah dan Buku Keliling Bergilir) yang dibuat oleh Mbah Dauzan. 

Di klub pencinta Perpustakaan yang diberi nama LLC ini memiliki program wajib baca buku fiksi dan non fiksi masing-masing 1 buku per minggu. Para siswa diminta untuk mengikat ide-ide penting yang berkelibatan di dalam buku dengan cara menuliskannya kembali dalam bentuk review. Terbukti, LLC sukses menaikkan nilai output sekolah. Karena persentase kelulusan naik hingga mencapai 100 persen. (hlm. 134)

Bagian ketiga berjudul “bahaya bangsa tanpa minat baca” berisi kegelisahan penulis yang merasakan geliat minat baca dalam negeri dirasa kurang. Budaya tutur lebih lazim bertumbuh di kalangan masyarakat. Inilah yang menyebabkan tingkat keterbacaan buku sangat minim.

“Sejauh informasi dianggap  tidak penting sejauh itu pula minat baca (buku) akan tetap ‘jongkok’. Biar ada berbagai kebijakan populis : kampanye gemar membaca, perpustakaan keliling, subsidi buku, hibah buku, buku murah (diskon), deregulasi industri penerbitan buku, dan sebagainya.”(hlm. 161)

Kegelisahan Gur Ir telah ia tuangkan dengan lugas dalam buku ini. Sebagai sumbangan pemikiran tentang krisis yang terjadi di dunia literasi Indonesia. Dengan menyasar pembaca yang berkepentingan dengan buku secara langsung, Gus Ir ingin mengembangkan semangat literasi kita bertumbuh kembali dari beragam sisi, baik dari penerbit, pembaca, penulis maupun pemerintah. Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin bersinergi mewujudkan harapan literasi Indonesia yang lebih baik. Overall, lima bintang dari saya untuk buku ini. 

4 comments:

  1. Wow, judulnya menggelitik : Best Seller Sejak Cetakan Pertama. Isinya tentu menyinggung sedikti banyak mengenai kiat2 tuk menembus best seller ya, hehehe.

    Ila, ternyata kamu pencinta buku sekali ya, sampe bikin blog khusus tuk mengulas resensi buku. salut deh .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dibahas kiat meraba tren perbukuan. Kalo blog ini memang khusus resensi biar pisah sama blog personal, mba. :D

      Delete
  2. Replies
    1. Iya, mba Dedew. Sumbangan pemikirannya keren. Masih relevan dipakai sampai sekarang.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^