Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 December 2014

Resensi Buku : Detektif Tanpa Kasus - Alya Namira Nasution

Judul : Detektif Tanpa Kasus
Pengarang : Alya Namira Nasution
Penerbit : Bentang Belia
Terbit : Mei 2012
Tebal : 150 hlm.
ISBN : 978-602-9397-38-3

Merasa senasib, Tiar, Ali, dan Andi membentuk kelompok detektif bernama TAA Pemberani. Mereka pun mulai menyelidiki berbagai kejadian di sekolah yang menurut mereka janggal. Beberapa kasus ditangani antara lain kasus kantin Pak Jiman, kasus tas Sari, hingga order aneh yang sengaja dibuat teman-teman untuk mengerjai mereka. Namun, bukannya memecahkan masalah, tindakan mereka justru mempermalukan diri sendiri. Mira, ketua kelas yang dikenal jutek pun jadi sering memarahi ketiganya.

Tiar, sang ketua TAA pemberani merasa Ali sering mengacaukan rencana yang akan dibuat oleh kelompok detektif mereka. Ali secara terang-terangan mengatakan mereka adalah detektif. Padahal cara kerja detektif itu secara rahasia, tidak boleh ada yang tahu aktivitasnya. Tapi Ali malah mengusulkan membuat spanduk dan undang-undang dasar kelompok untuk mengumumkan tentang TAA Pemberani. Sungguh, ide yang yang konyol.

Kasus Pak Jiman yang paling menarik perhatian TAA. Awalnya karena Pak Jiman, penjual di kantin sekolah sekarang menghilang entah ke mana. Ia digantikan oleh Pak Kardi, lelaki pendiam yang menjual mie jauh lebih mahal dari makanan yang biasa dijual pak Jiman. Rumor yang beredar bahwa Pak Kardi saudara kepala sekolah. Ia menggantikan Pak Jiman yang katanya menjual makanan tak sehat. Siapa sebenarnya pak Kardi? Benarkah rumor itu?

Ada lagi kasus tas Sari. Sari yang mengalami kesialan karena ada yang memasukkan telur ke dalam tas Sari. Sehingga tas dan buku-buku Sari rusak akibat perbuatannya. Telur itu memang milik Yayang, tapi siapa yang memasukkan ke dalam tas Sari? Lalu, bagaimana nasib tas Sari yang kotor itu?

Ada satu kasus yang membuat TAA Pemberani jadi kapok membuat kasus aneh-aneh. Awalnya Tiar mengalami insiden di persami, hingga ia harus mau mendapat hukuman dari bu Yulia untuk memecahkan kasus yang ditawarkan. Tapi, siapa sangka, kasus yang dikerjakan Tiar ini justru mengubahnya menjadi anak yang cinta matematika dan menjadi idola sekolah. Apa kasus yang dikerjakan oleh Tiar?

***

Novel anak yang ditulis Alya ini merupakan novelnya yang ke-8. Alya pernah meraih juara 1 dalam lomba cerpen yang diadakan Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) tahun 2011. Di buku ini dia mengisahkan tentang anak-anak detektif. Tak hanya kocak dan menggemaskan, kisah Detektif  Tanpa Kasus juga akan membuat pembaca terharu dan menemukan banyak nilai positif. Seperti kasus saat makan buah nangka yang ternyata buah milik orang lain. Alya menyisipkan pesan kebaikan dalam dialog antara anggota TAA Pemberani.

“Tapi, aku enggak mau, lho, kalau kelompok kita ini memakai barang-barang curian. Cukuplah nangka curian itu yang menjadi pelajaran buat kita. Kalau makan nangka tanpa izin saja bisa membuat  kita sakit perut, aku enggak bisa membayangkan kalau kita memakai teropong curian. Bisa-bisa mata kita bintitan… Ihh, aku enggak mau, ah!”(hlm. 27)

Ada pula saat di mana anak-anak detektif itu mengakui kesalahan yang diperbuatnya :

“Menurut saya, hukuman yang paling pantas untuk diberikan kepada saya adalah meminta maaf kepada teman-teman yang sudah saya sakiti dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya tersebut.”(hlm. 73)

Yang paling menarik bagi saya saat Bu Julia memberikan hukuman yang kreatif. Selain mengasah rasa ingin tahu, juga bermanfaat untuk membuat anak-anak seperti Tiar dan teman-temannya agar mau mempelajari matematika tanpa merasa pening kepala. Tanpa menggurui, Alya mengajak anak-anak untuk menikmati belajar selezat makan coklat. Overall, 5 bintang dari saya untuk novel secerdas ini. ;) 

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^