Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

24 December 2014

Resensi Buku : Outliers – Malcolm Gladwell




Judul : Outliers – Rahasia di balik Sukses
Penulis : Malcolm Gladwell
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan keenam, Oktober 2014
Tebal : 339 halm.
ISBN : 978-979-22-4476-2

Outliers merujuk pada arti orang-orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Ada dua bagian yang dijabarkan oleh Gladwell dalam buku ini yaitu kesempatan dan warisan budaya. Ada sesuatu yang sangat salah tentang cara kita menilai sebuah kesuksesan. Kita terbiasa menilai seorang yang sukses atas dasar kualitas pribadinya. Padahal, Gladwell menemukan kesimpulan lewat analisa gabungan dari sisi psikologi, sosiologi dan antropologi yang mengindikasikan bahwa topologi suatu tempat di mana seseorang tinggal menjadikan suatu kesuksesan pada satu orang berbeda dengan orang lain.

“Tempat dan kapan kita tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar. Kebudayaan tempat kita besar dan warisan yang diturunkan oleh para pendahulu kita membentuk berbagai pola keberhasilan kita dalam cara yang tidak bisa kita bayangkan. Dengan menanyakan asal usul mereka, kita bisa mengungkapkan logika di belakang orang-orang yang meraih kesuksesan dan kegagalan.” (hlm. 18)

Seperti saat Bill Joy mendapatkan kesempatan untuk menggunakan komputer di Computer Center Michigan selama 24 jam penuh tanpa membayar rekening. Ia menjadi ahli karena menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuat program. Melewati kaidah belajar selama 10.000 jam, ia berhasil menjadi ahli, hingga program yang ia buat bisa digunakan sampai 30 tahun kemudian. Kesuksesannya dalam bidang komputer setali tiga uang dengan Bill Gates.

Seperti pula yang terjadi pada perbedaan anak orang miskin dan kaya. Anak orang miskin terbiasa dengan budaya rendah diri, sedangkan anak orang kaya terbiasa diajarkan untuk mengungkapkan pendapat pada orang lain. Anak orang kaya mendapatkan budaya ini dari kebiasaan mereka menghabiskan waktu selama musim liburan dengan berinteraksi sosial bersama orang yang lebih dewasa. Mereka menyerap kehidupan dan bertumbuh lebih baik dalam segi sosial, sehingga membuat mereka lebih siap menghadapi kerasnya hidup. Interaksi sosial tidak lagi terasa asing ketika mereka memasuki fase kuliah. Inilah jawaban mengapa banyak anak jenius ber-IQ tinggi seperti Chris Langan tidak mampu keluar dari jalur kemiskinan karena pengalaman interaksi sosial yang minim membuat ia tidak mampu keluar dari kebiasaan saat ia kecil.  

Bagian kedua adalah warisan budaya. Warisan budaya menempati urutan yang rumit namun menggelitik perhatian saya karena mengungkapkan banyak hal tersembunyi. Seperti mengapa para ahli matematika kebanyakan berasal dari Asia, mengapa budaya kehormatan diri tumbuh di kalangan penggembala di dataran tinggi. Mengapa Korean Air mengalami kecelakaan beruntun selama penerbangan.

Pengaruh budaya membuat Korean Air mengalami kerugian karena kecelakaan pesawat. Korea memiliki enam tingkatan yang berbeda untuk percakapan, bergantung pada hubungan antara sang pembicara dan yang diajak bicara : formal, informal, terbuka, akrab, intim, dan datar.

Budaya bahasa dan keberjarakan membuat pilot dan co-pilot mengalami ketimpangan dalam berkomunikasi yang menyebabkan komunikasi di kokpit ketika situasi darurat jadi tidak lugas. Ternyata, warisan budaya di mana hierarki bahasa dan sopan santun memiliki level yang tajam masih digunakan di Korean Air. Padahal itu terjadi di pesawat di situasi darurat. Jelas bukan waktu yang tepat untuk menggunakan level bahasa. Inilah yang menimbulkan tingkat kecelakaan yang dialami Korean Air tinggi dibandingkan pesawat dari maskapai negara lain. (hlm. 243)

Lain lagi dengan para ahli matematika dari Asia lahir dan tumbuh dari tradisi pertanian. Pertanian seperti menanam padi di Cina membuat orang yang melakukannya dalam satu tahun penuh menjadi begitu tekun. Ketekunan dibutuhkan dalam mempelajari matematika. Ada pula peran keteraturan penomoran di Cina, Korea dan Jepang yang membuat anak-anak Asia bisa melakukan fungsi dasar seperti penambahan secara logis dan cepat, dengan jauh lebih mudah dibandingkan yang menggunakan bahasa Inggris.

Seorang ahli menganalisa hubungan antara mengisi kuesioner yang panjang dengan nilai matematika dalam sebuah olimpiade internasional. Dan diperoleh hasil seperti ini :

“Negara dengan siswa yang bersedia untuk berkonsentrasi, duduk cukup lama, dan memusatkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dalam daftar yang panjang itu adalah negara yang sama di mana siswanya sukses dalam menyelesaikan soal-soal matematika.” (hlm. 280)

Ini adalah efek dari tradisi pertanian di Cina di mana seorang petani yang miskin, bekerja keras, di sawah selama tiga ribu jam setiap tahunnya, mengucapkan kepada yang lainnya kata-kata seperti, “Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.” (hlm. 281)

          Warisan budaya menempati posisi tertinggi yang membuat kehidupan seseorang dengan orang lain berbeda hasilnya meski ber-IQ  sama. Selain kesempatan, warisan budaya juga menjadi penopang bila kesempatan itu tiba. Apakah siap disambut atau tidak, tergantung kita. Overall, Gladwell menyajikan cetak biru yang memikat dan provokatif untuk memaksimalkan potensi manusia lewat buku ini. 5 bintang dari saya. 

1 comment:

  1. walau belum baca bukunya, tapi dari reviewnya, saya setuju dengan isi buku tersebut. latar belakang seseorang sangat mempengaruhi pola pikir dan pengabilan keputusan dalam hidupnya. tapi tetep saja ada invisible hand yang enggak bisa diabaikan, bahwa rejeki itu, kaya dan miskin, ada campur tangan Allah di dalamnya. Jadi pengen beli bukunya (kalau ada rejeki) :). TFS

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^