Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

20 December 2014

Resensi Buku : Pilkadal di Negeri Dongeng - Tundjungsari


Judul : Pilkadal di Negeri Dongeng
Pengarang : Tundjungsari
Penerbit : Afra Publishing, Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi
Terbit : Cetakan Pertama, September 2007
Tebal : 168 halaman
ISBN : 978-979-1397-07-0

Pilkadal di negeri dongeng di kabupaten Antah Berantah ibarat kisah yang merefleksikan dagelan di negeri yang kita huni sekarang. Stereotip yang dipandang orang ketika terjadi pilkadal adalah siapa yang berkuasa, memiliki basis massa dan uang yang banyak bisa dipastikan menjadi kanditat yang diperhitungkan dalam bursa pencalonan penguasa. Pilkadal yang menelan bertrilyun uang rakyat untuk prosesnya ternyata tidak penghasilkan pemimpin yang berdedikasi pada negeri yang diamanahkan. Justru menjadi ajang mengeruk kekayaan agar bisa diwariskan pada anak keturunan, bila perlu hingga 7 generasi. Ada tiga calon yang masuk kandidat sebagai calon bupati dan wakil bupati yaitu pasangan Suryo Buwono dan Siti Aminah, Jaka Lesmana dan Sulastri, juga Tugino dengan Bahtiar.

Apa yang terpikir oleh seorang politisi seperti Pak Bupati, Suryo Buwono, ketika masa jabatannya hampir usai? Ia mendatangi peramal. Suatu isu yang lazim didengar ketika pilkadal berlangsung. Para calon sibuk mencari cara untuk menang, mulai dari black campaign, gaet sana sini dengan parpol lain, sampai mendatangi peramal demi mencari jawaban siapa calon yang bisa mendampingi. Sungguh ironis, mengingat berapa banyak politisi yang sebenarnya cerdas tapi menjadi tidak logis ketika berhadapan dengan situasi chaos ala pilkada, segala yang bisa memuluskan jalan menjadi pilihan yang wajib ditaati demi tercapainya keinginan hati.

Tokoh Jaka Lesmana digambarkan menjadi sosok bakal calon yang flamboyan, dengan kebiasaannya yang suka mendekati perempuan-perempuan cantik untuk dikoleksi. Jaka yang disebut dengan nama kecil “Amin”, membuat pembaca menjadi tahu ada orang seperti dia. Yang liciknya minta ampun, bahkan saat berhadapan dengan orang yang ingin memeras hartanya lewat video skandal seks, Jaka justru bertindak gesit dengan melibas isu itu. Awalnya saya agak bingung dengan tokoh Jaka yang ditulis dengan nama Amin, tapi beberapa kalimat berikutnya menggunakan Jaka lagi. Ternyata saya baru mengerti Amin digunakan sebagai nama kecil yang hanya dipakai oleh orang-orang yang dekat saja.

Tokoh Lastri merefleksikan sosok perempuan yang terbawa arus demokrasi negeri dongeng, di mana ia menjadikan kekuasaan sebagai tingkatan paling menakjubkan yang ingin ia raih. Basic dari keluarga politisi dengan dukungan massa yang meluber, menjadikan Lastri menjadi calon yang digadang-gadang mampu menyaingi calon lainnya. Meskipun mengorbankan keluarga, bahkan pernikahannya. Seperti yang pernah saya dengar dari slentingan teman, seorang perempuan ketika masuk kancah politik seperti kehilangan kontrol diri. Menjadi ambisius lebih dari calon laki-laki, sebab seakan ingin membuktikan bahwa apa yang dianggap orang tidak mampu ia gapai karena ia perempuan, ingin ia patahkan. Sejatinya, hal seperti yang dilakukan Lastri ini yang menjadikan pemerintahan kacau, karena ketika sudah di atas, bisa jadi Lastri tidak akan menjadikan rakyatnya sebagai yang utama, yang ia seharusnya urusi selama masa pemerintahan.

Tokoh A Liong pun memegang peranan dalam transaksi kekuasaan di negeri dongeng. A Liong yang merupakan bandar togel berinisiatif untuk melobi calon yang dirasa mampu menjadikan dirinya tetap ‘aman’ di jalur bisnisnya. Yang ini membuat saya terhenyak ketika membacanya, yaitu saat A Liong mengatakan dua tahun pertama boleh ditertibkan, tiga tahun sisanya jangan ganggu bisnisnya. Ini ibarat buat simalakama. Pantas saja togel maupun prostitusi sulit diberantas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa backing power para pebisnis gelap itu adalah para penguasa itu sendiri. Apa jadinya bila transaksi kekuasaan semacam ini menjadi kebiasaan di kalangan politisi?

Tokoh Tugino menjadi tokoh yang bisa membawa hiburan tersendiri ketika saya membacanya. Seperti saat ia menyuguhkan nasi jagung dan berpakaian ala orang ndeso hanya dengan kaus putih tanpa kerah dan celana selutut, saat menerima kedatangan bupati Suryo. Tugino yang seorang pengusaha besar merasa perlu menyaingi Suryo dalam bursa pencalonan bukan karena motif ingin menang, namun hanya ingin memberi shocking terapi bahwa sekelas Tugino saja bisa masuk menjadi calon. Alasan yang didasari dari ketidaksukaan Tugino dengan kebiasaan penguasa yang suka minta ‘upeti’ demi melancarkan usaha. Padahal uang yang sudah digelontorkan bukan uang yang sedikit, tapi ‘upeti’ semacam itu bisa diminta berkali-kali jika si penguasa mengancam perihal keberlangsungan bisnisnya.

Sosok Slamet menjadi cermin para rakyat kecil yang tertindas ketika penguasa memberi kebijakan yang ambigu. Seperti kartu sehat yang hanya diberlakukan pada sebagian kecil warga, padahal warga di desa itu semuanya miskin. Yang kaya bisa dihitung jari. Seperti saat Slamet harus bolak-balik ke rumah sakit mengurus tiga orang yang menjadi tanggungannya yaitu istrinya yang hamil  tua, bapaknya yang sakit diabetes dan calon bayi yang akhirnya lahir dengan proses prematur. Lewat dialog ini, bisa terbayang bagaimana situasi yang harus dialami oleh Slamet.

“Bayi Bapak harus tinggal di rumah sakit karena premature. Karena surat-surat keterangan tanda tak mampu hanya berlaku untuk istri Bapak, maka perawatan untuk bayi Bapak tetap dikenakan biaya.”
“Tapi saya benar-benar tidak punya uang, Suster…”
“Kalau begitu ya urus surat-surat miskin. Dan habis ini KB, sudah tahu miskin kok hamil….”

Tundjungsari sebagai penulis yang baru dibawah bimbingan Afra Writing School menuliskan dengan lugas masalah yang ia lihat di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi, sayangnya kekayaan alam malah hanya digunakan oleh sebagian kalangan saja. Cermin sosial yang dibiaskan oleh Tundjungsari lewat novel ini ibarat dagelan ala parodi kehidupan yang mengingatkan kita bahwa seperti itulah yang terjadi di tanah kita sekarang. Meski ending yang kurang greget karena menggantung, tapi saya menikmati alur yang dilukiskan dengan apik lewat ragam tokoh yang melintas di novel ini. 

4 comments:

  1. miris, tapi sepertinya demikianlah yang umum di Indonesia, penguasa aslinya adalah boneka pengusaha, atau penguasa itu aslinya pengusaha yang mendompleng negara...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semuanya demi memuluskan kepentingan pribadi atau golongan. Kalau pun ada yang bersih, bisa dihitung dengan jari. Dan tantangannya dari lingkungan politik lebih berat, karena dianggap beda sendiri.

      Delete
  2. wah, politik dikemas dalam dongeng. (y) dari judulnya aja udah menarik perhatian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups. Dongeng yang sebenarnya ada di negeri kita, mba. Yuk dibaca. :)

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^