Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

26 December 2014

Resensi Buku : Semester Pertama di Malory Towers - Enid Blyton


Judul Buku : Semester Pertama di Malory Towers
Pengarang : Enid Blyton
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kesebelas, Juli  2010
Tebal : 248 halm.
ISBN : 978-979-22-4727-5

Darrell Rivers mulai bersekolah di Malory Towers- sekolah berasrama di tepi pantai yang kegiatan utamanya adalah tenis dan renang. Di sekolah khusus anak perempuan ini Darrell dengan cepat bisa menyesuaikan diri. Ia memperoleh beberapa teman baru, termasuk Alicia yang nakal tapi cerdas dan gemar melakukan berbagai muslihat untuk menjebak guru-gurunya. Namun, dalam semester pertamanya Darrell tidak selamanya gembira. Banyak persoalan pelik yang harus dihadapinya.

Di asrama yang ditempati Darrell, ada empat anak yang berperagai berbeda : Gwendolline yang manja, Sally Hope si anak tunggal yang pendiam, Mary-Lou yang pengecut dan Alicia yang nakal meski pintar. Darrell mengalami masalah dengan Sally Hope. Anak yang pendiam itu tidak suka mendapat kabar bahwa ia memiliki adik. Kelakuan aneh yang ditimbulkan Sally membuat Darrell menyurati ibunya, mengatakan yang sebenarnya. Sampai sebuah pertengkaran terjadi. Darrell mendorong Sally dan anak itu mendadak kesakitan. Ia masuk rumah sakit dan dinyatakan harus dirawat dalam waktu yang lama. Darrell yang merasa bersalah akhirnya mengaku pada gurunya.

Masalah Darrell bukan hanya dengan Sally. Namun juga dengan Gwen dan Mary-Lou. Gwendolline suka membual tentang kepintarannya padahal ia yang paling tertinggal pelajaran. Sering tak bisa melakukan hal dengan baik, Gwen selalu mengalami krisis pede, hingga akhirnya ia malah melampiaskannya lewat Mary-Lou, yang setingkat sama buruknya dengannya dalam hal pelajaran.

Gwendolline yang merasa tersisih karena tidak pandai juga lemah dalam hal rasa takut, malah mem-bully Mary-Lou. Mary-Lou yang takut air dan tak bisa berenang itu dibenamkannya di kolam renang. Saat itu terjadi, Darrell melihat Mary. Ia pun menolong anak itu dan menampar Gwen untuk mengingatkan bahwa sikap Gwen salah. Darrell yang dianggap sebagai pahlawan oleh Mary-Lou, akhirnya membuat anak itu mengikutinya terus selama semester. Mary memuja Darrell sebagai pahlawan, meski Darrell menganggap perhatian Mary begitu besar dan tak berarti apa-apa. Ia hanya ingin menolong saja, bukan menjadi idola atau pahlawan. Katherine yang tidak sepakat dengan sikap Darrell yang menampar Gwen, tidak tinggal diam. 

          "Kupikir Gwendolline memang sudah sewajarnya memperoleh hukuman, Darrell, tetapi bukan kau yang harus menghukumnya. Akulah yang punya hak untuk meegurnya, atau Pamela, atau bahkan Nona Potts. Bukan kau. Bisa kaubayangkan, betapa kacaunya suasana kalau setiap anak di sekolah ini diperbolehkan menampari anak lain sesukanya!"(hlm 90)

Meski Darrell sudah minta maaf, namun Gwen tidak terima. Gwen ternyata tipe orang dengan self esteem rendah. Ia butuh mem-bully orang yang menurutnya lebih lemah posisinya, hanya untuk meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja dan supaya diperhatikan pula oleh orang lain. Which is, so pathetic. Sayangnya, meski sudah diingatkan berkali-kali bahwa kadar keterlaluannya yang tingkat tinggi, Gwen sering merasa bahwa ia tidak seburuk itu. Ia malah membuat ulah lagi dengan menginjak pulpen kesayangan Mary-Lou.

Satu kelas berinisiatif mencari siapa pelakunya, hingga tuduhan jatuh pada Darrell, karena Gwen lebih dulu memfitnah dengan menuangkan tinta pada sepatu Darrell. Akankah masalah yang dihadapi Darrell berakhir? Bagaimana hasil nilai semester yang akan mereka dapatkan?

***
Malory Towers mengingatkan saya pada Harry Potter. Gambaran asrama yang mirip seperti adanya ruang makan, kelas dengan 4 menara(Utara, Selatan, Barat dan Timur), ruang rekreasi, kepala asrama, san(rumah sakit di dalam asrama), gangguan anak nakal, hingga jenis guru yang setipe. Kalau saya tidak melihat tahun terbitnya tentu saya mengira bahwa buku ini terbit setelah Harry Potter. Ternyata buku Enid Blyton ini malah terbit lebih dulu dibanding Harry Potter. Jadi, apakah benar JK Rowling terinspirasi dari karya Enid Blyton ini?

Mengingat banyaknya kemiripan setting tempat bahkan bagian awal bab seperti saat perpisahan para orangtua dengan calon murid, juga perjalanan menuju asrama yang memakan waktu cukup lama. Bedanya, seperti halnya buku fantasi lain, JK Rowling lebih mendetailkan setting-nya bila dibandingkan Malory Towers ini. Enid lebih berfokus pada penajaman karakter tokoh dan penyelesaian kasus.

Kasus yang dialami oleh Gwendolline adalah kasus yang menurut saya paling berat dibandingkan kasus Alicia, Sally Hope maupun Mary-Lou. Gwendoline yang sebelumnya tak pernah ikut sekolah formal, ia hanya belajar di rumah dengan guru privat(homeschooling) membuat saya jadi sadar bahwa anak-anak tetaplah butuh lingkungan sosial untuk menumbuhkan sifat-sifat baik. Seperti berani, bertanggungjawab, mandiri, dan toleransi dengan orang lain. Anak yang tidak dikenalkan dengan lingkungan sosial membuat mereka tidak memiliki ego strength.

Darrell yang terlalu santai, mengingatkan saya bahwa ada banyak anak seperti Darrell yang begitu masuk ke asrama, ia kehilangan kendali dirinya. Ia yang seharusnya bisa mengontrol emosi saat marah, ternyata tetap saja meluap dua kali di semester pertamanya. Darrell juga terlalu terlena dengan gambaran pencapaian diri, padahal bila dibandingkan dengan Alicia ia jauh berbeda.

“Kau ingin bertanya mengapa kau begitu dekat dengan kedudukan terbawah, padahal kau merasa bisa berada di antara mereka yang berada di tingkat-tingkat teratas? Begini, Darrell,  ada orang yang seperti Alicia. Dia nakal, suka mengganggu anak lain, suka menghabiskan waktunya dengan bercanda, tetapi masih tetap bisa bekerja dengan baik dan dengan hasil cukup baik. Dan ada pula orang yang seperti kau, yang juga suka bergurau, bermain, membuang-buang waktu—tetapi tak bisa menjaga hasil kerjanya. Hasil kerjamu terpengaruh karena kurang belajar dan kau melorot ke bawah. Kau mengerti?” (hlm. 143)

“Orang-orang terbaik di dunia ini kebanyakan adalah orang-orang yang biasa melakukan sesuatu dengan sepenuh hatinya, tanpa pikiran yang bercabang. Mereka menjadi sangat berhasil bila dapat memilih satu saja hal yang paling tepat untuk mereka.”(hlm. 144)

Ending novel ini menakjubkan karena memberikan penyelesaian yang tuntas terhadap masalah yang dimunculkan di buku. Overall, 5 bintang untuk novel remaja ini.

6 comments:

  1. Wah.. saya tergila-gila bgt sama serial Malory Towers ini waktu masih SD, walau seringnya pinjem buku temen atau baca di perpus sih. Hehe. Sampe berkhayal andai bisa tiggal d sekolah berasrama yg keren spt itu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, aku malah baru baca, mba Ruri. Kalo dulu pas SD lebih familier dengan lima sekawan. Pas ada temen rekomendasikan buku ini aku baru tahu ada banyak seri buku anak bikinan Enid Blyton. :D

      Delete
  2. Kasus yang dialami oleh Gwendolline adalah kasus yang menurut saya paling berat dibandingkan kasus Alicia, Sally Hope maupun Mary-Lou. Gwendoline yang sebelumnya tak pernah ikut sekolah formal, ia hanya belajar di rumah dengan guru privat(homeschooling) membuat saya jadi sadar bahwa anak-anak tetaplah butuh lingkungan sosial untuk menumbuhkan sifat-sifat baik.

    --> Kalau lingkungan sekitarnya bisa mendukung bisa jadi pengganti lingkungan sosial di sekolah, menurut Fenny ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku lingkungan sekolah beda dengan lingkungan rumah, mba. Apalagi untuk sekolah yang favorit dan ada di kota. Kemungkinan untuk berkembang lebih baik karena ngumpul dengan orang berlatar belakang beda.

      Delete
  3. Wiiii kangen Mallory TOwers. Buku2 kayak gini tu timeless ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, temanya ga basi ya, mak. Jadi masih cetak ulang terus. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^