Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

16 December 2014

Resensi Buku : Sketsa Cinta Bunda - Sinta Yudisia


Judul Buku : Sketsa Cinta Bunda
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Terbit : Mei 2014
Tebal : 120 halm.
ISBN : 978-602-1614-21-1


Bunda adalah anugerah Tuhan bagi keluarga. Insan mulia yang mengabdikan diri pada pembentukan generasi Rabbani ini selayaknya mendapatkan ilmu yang mencukupi untuk bisa menjadi mercusuar kebaikan dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya. Dengan ilmu parenting yang memadai, bunda akan mampu meneladani semangat kebaikan yang bersumber dari Al Qur’an dan hadist.

Dalam setiap tahap kehidupan yang dilalui bunda baik dengan anak maupun suami alangkah indahnya bisa dilewati dengan baik agar cermin karakter yang terbias menjadikan kehidupan di masyarakat kita menjadi lebih baik. Ketahanan negara berawal dari ketahanan sebuah keluarga. Maka, mari kita teladani ilmu penulis buku ini dalam lima bagian yaitu :

Al-Quran, Shalat dan Doa ; bab di mana dibahas tentang hubungan antara ego strength dengan Al-Quran, shalat dan doa. Ego Strength atau kekuatan mental dalam menghadapi masalah memungkinkan seseorang menjadi lentur bila ditempa dengan tekanan hidup. Bila manusia membaca Al-Quran ketika mengalami masalah, hal ini akan membuat segala energi dan gelombang otak menjadi stabil, memusar lebih kuat dan menjadikan otak lebih fresh. Karena itu, mendekat pada Allah, sang maha mendengar segala doa hamba-Nya adalah sebuah kebutuhan bagi kita.

Rumah dan pernak-pernik ; Rumah sebagai tempat berlabuh bagi penghuninya dan tempat paling nyaman. Penulis menyajikan cara agar dalam rumah terbangun suasana yang nyaman antara sang bunda, ayah dan anak-anak. Bunda bisa memilih gaya pendidikan Hybrid yang dipopulerkan Amy Chua, di mana metode ini adalah gabungan tergantung kebijaksanaan sang bunda. (hlm. 26) Dengan metode ini, bunda bisa mengajak anak untuk melakukan gerakan Go Clean!

Untuk menumbuhkan tanggungjawab pada anak, juga menjadikan visi misi rumah sebagai sebuah istana, rumah sakit, pengadilan dan benteng. Istana, anak bisa menjadikan bunda teladan dalam berkepribadian. Sebuah rumah sakit, di mana anak bisa mencurahkan perasaan terdalamnya ketika terluka, di sini bunda bisa menyembuhkan luka anak maupun suami. Pengadilan di mana anak bisa belajar untuk mendapat punishment bila melanggar aturan, agar anak bisa lebih disiplin. Juga menjadi benteng, agar anak bisa mendapat perlindungan terkuat dari serangan dari luar.

Orangtua ; di bab ini pembaca bisa belajar untuk menjalankan pernikahan dalam jalan dakwah. Juga mendidik anak seperti yang dilakukan Lukman melalui empat tahapan yaitu : mengajarkan syukur pada Allah, melarang mempersekutukan Allah, berbuat baik pada orangtua, dan mengenalkan reward pada anak. Pembaca juga belajar untuk meneladani semangat Ibrahim dalam mendidik keluarga dan keturunannya. Bila ada kesulitan yang disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan orangtua yang nakal, perlu menyeimbangkannya dengan mengaji, menumbuhkan kembali semangat kebaikan.(halm. 70)

Anak ; meneladani semangat Ibnu Sina dalam mendidik anak dengan mengajarkan olahraga, seni, dan budi pekerti di 5 tahun pertama, kemudian usia 6 tahun hingga remaja diajarkan olahraga, syair dan sastra untuk menghaluskan rasa. Sebab di masa remaja, anak belajar membentuk persahabatan sehat dan relasi intim dengan individu lain, hingga mencapai intimasi. Bila tidak tercapai, ia akan merasa terisolisasi. Di sinilah peran bunda untuk mengajak anak mengenal keluarga dan lingkungan masyarakat, mengambil peran sosial. (halm. 80)

Otak dan kepribadian ; Di bab ini pembaca bisa melihat peran otak dalam membentuk kepribadian. Lewat analisa psikologis, seorang anak yang memiliki IQ 130, kemungkinan akan menjadi anak yang berpotensi sebagai troublemaker. Karena ekstrim kanan yang timbul dari kebiasaan di mana minimnya kompetensi sosial, sehingga mengakibatkan anak acuh, egois, mau menang sendiri. Di balik ketidakpekaan sosialnya yang payah, anak bertipe superior ini sesungguhnya memiliki potensi menjadi pemimpin dan pencari solusi. Otak juga memungkinkan well being yaitu proses menggapai kebahagiaan yang bisa diperoleh lewat pencarian. (halm. 109)

Nah, lima bagian sudah tersaji dengan apik, tinggal mengaplikasikannya dalam rumah kita ya, Bunda. Semoga selalu dilimpahi cahaya kebaikan oleh Allah. Aamiin. :)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^