Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

14 January 2015

[Resensi Buku] Love Command : The Second Chance

Judul Buku : Love Command : The Second Chance
Pengarang : Janice Nathania
Penerbit : Gramedia
Terbit : 2013
Tebal : 200 halm.
ISBN : 978-602-03-0016-0
Genre : Teenlit


Sejak awal, Shilla tahu hubungannya dengan Ryo tidak akan mudah. Ryo, anak bungsu di keluarga Luzardi jatuh cinta pada Shilla. Keduanya dekat sejak Arya-kakak Ryo- meninggalkan Shilla ke Paris. Sesungguhnya Shilla dan Ryo memiliki kepribadian yang berbeda. Namun, itu justru membuat Ryo makin tertarik dengan Shilla. Shilla tak mau seorang pun tahu tentang status barunya. Ia bahkan hanya mau dijemput di halte, bukan di sekolah.

Pertengkaran demi pertengkaran tetap menjadi rutinitas mereka, namun bukan itu masalahnya. Shilla sadar perbedaan status mereka begitu mencolok, dan itu akan segera menjadi masalah. Kabar kedekatan Ryo dan Shilla cepat menyebar. Bianca yang tak terima kalau Shilla jadian dengan Ryo, akhirnya membuat teror dengan mengatakan bahwa masa lalu Shilla buruk, termasuk masa lalu bundanya. Ia membuat brosur yang disebarkan di seluruh sekolah, hingga anak-anak menganggap Shilla seorang anak yang tidak layak bersekolah di Season High, sekolah elit para anak orang kaya.


Ryo yang tahu Shilla ada masalah dengan Bianca ingin membuat pembalasan padanya. Ryo pun merancang siasat balas dendam pada anak-anak yang membully Shilla. Mobil ban sebelah dikempesi, padahal bukan hanya satu mobil yang kempes, tapi seluruh mobil milik anak sekolah yang mengganggu Shilla, tentu saja kecuali mobil Ryo. Lalu Ryo juga mengancam Bianca menggunakan pisau di sebuah atap gedung yang hendak direnovasi. Ia mengupas mangga sambil mengancam akan menguliti Bianca bila cewek itu masih merecoki hidup Shilla. Bianca jadi trauma melihat mangga.

Selain masalah Bianca, masalah kedua adalah Arya. Arya masih menjadi sosok istimewa yang menetap di hati Shilla sejak dulu. Arya mengingatkan Shilla pada sosok Ayi, anak lelaki yang dulu memberinya bros saat Shilla kecil sedang sedih. Shilla menganggap Ayi cinta pertamanya. Dan hati Shilla kembali tak menentu ketika Arya tiba-tiba kembali dari Paris, menghidupkan kembali perasaan yang dulu tersimpan.

Namun di tengah kebimbangannya, Shilla masih harus menghadapi kejutan lain. Terkuaknya rahasia besar yang umurnya lebih tua dari dirinya. Kilas balik yang menuturkan kisah bunda, Ayi dan keluarga Luzardi. Kenyataan yang akan segera menjungkirbalikkan hidupnya. Juga hatinya. Akankah Shilla memilih Ryo atau Arya?

***

Kisah cinta anak orang kaya dan miskin sudah menjadi inti novel teenlit ini, membuatnya jadi seperti di kisah drama ala Asia(Taiwan/Korea). Anak orang kaya yang hedonis bin slengekan ternyata bisa juga jatuh cinta dengan gadis miskin yang menjadi pelayan. Kisah ini mengingatkan saya pada kisah Tao Ming Tse. Hanya bedanya, kisah Shilla dan Ryo bergulir ke arah yang lebih bikin gregetan. Kisah hidup Shilla makin rumit dan membawanya pada kegamangan. Apalagi rahasia besar yang hadir bukan sesuatu yang biasa.

Kekuatan novel ini ada pada plot, diksi dan dialog yang menekankan pada pembentukan karakter. Karakter tokohnya terasa beda setiap orang, tidak seperti teenlit lain yang kadang karakternya nggak keliatan. Yap, novel ini bergaya show, not tell. Jadi pembaca disuguhkan banyak puzzle kehidupan tokoh yang melingkupi kehidupan Shilla, meski Shilla sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu bundanya.

Kisah flash back yang maju mundur untuk memperlihatkan tokoh di masa lalu membuat kening saya berkerut. Karena banyak tokoh yang dijejalkan di satu kisah tambahan ini, bikin pembaca jadi nebak-nebak. Ini siapa ya? Trus, itu siapa? Belum satu kasus si tokoh selesai, muncul tokoh lain. Jadi sepanjang kisah yang berhubungan dengan masa lalu, saya terus-menerus menebak : hubungan Davara, Ratya, Stefanus, Romilda, Ivano, dan Luzardi ini apa?

Sebenarnya, saya nggak merasa sreg dengan pemilihan aksi yang diambil oleh Ryo. Ryo yang temperamen mengambil pisau sebagai alat balas dendam, meski hanya menakuti tapi ngeri aja gitu. Karena novel ini segmennya remaja, kenapa jadi serem begini? Saya jadi ngebayang aja kalo pembaca remaja ikutan cinta ala Ryo, cinta buta, gimana jadinya ya? Dengan pola : bully-nggak terima-balas dendam-mutilasi/kekerasan. Ini bikin saya takut kalo akhirnya tindakan seperti ini dianggap biasa saja, bahkan dianggap buat nakutin doang. Saya jadi inget kasus Ade Sara yang meninggal karena alasan jealous trus disengat listrik sampai mati. See? Saya kangen kisah teenlit yang lebih banyak membahas persahabatan.

Kalo di novel ini banyakan kisah cintanya dan aroma remajanya jadi kerasa kurang. Kisah ini memang kisah cinta ala negeri dongeng, yang membuat pembaca menjadi berharap menjadi seorang Shilla yang beruntung dicintai dua lelaki dengan harta yang bejibun, nggak akan habis untuk 7 turunan. Saya suka suspense-nya, tapi bagian bully-nya kurang nyaman di hati. Saya juga suka bagian Shilla dan Arya saling berkomentar tentang filosofi teh. Bikin banyak merenung tentang cinta dan kehidupan.

Karena ini buku kedua, bagian romance-nya dikit. Tapi suka deh kalimat ini pas ngobrol sama Arya yang bijak.

“Terkadang pilihan akhirnya dijatuhkan bukan pada siapa yang lebih dulu datang melainkan pada dia yang paling akhir bertahan.”(hlm. 190) 
“Kenapa kamu nggak mulai mencari, sebelum ada yang menghilang lagi?”(hlm. 190)

Sepertinya bakal ada kelanjutan dari kisah ini karena kisahnya menggantung. Tapi soal kepastiannya, perlu nanya sama penulisnya kali ya. Anyway, 3,5 bintang untuk kisah ini. :D


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^