Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

9 January 2015

[Resensi Buku] The Miraculous Journey of Edward Tulane

Judul : The Miraculous Journey of Edward Tulane
Pengarang : Kate DiCamillo
Ilustrasi : Bagram Ibatoulline
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kedua, 2014
Tebal : 208 hlm.
ISBN : 978-979-22-2487-0
Genre : Novel Anak
Rating : 5/5



Dahulu kala, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci porselen bernama Edward Tulane. Kelinci itu sangat bangga pada dirinya sendiri, dan memang beralasan : ia dimiliki anak perempuan bernama Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya.
`              
Edward, nampak seperti kelinci sungguhan namun ia terbuat dari porselen dengan telinga yang terbuat dari bulu asli. Perasaan Edward sesensitif bulunya yang menyerap apa saja yang masuk ke dalam dirinya. Ia menyimpan perasaan marah pada Pellegrina, nenek Abilene karena menatapnya dan berkata “Kau mengecewakan aku”, seusai mendongengkan kisah seorang putri. Putri yang dikisahkan Pellegrina adalah seorang putri yang tidak menyayangi siapa pun dan tak peduli pada rasa sayang, meskipun banyak yang menyayanginya. Sejak itu Edward merasa bahwa Pellegrina membencinya.

Lalu, suatu hari, ia hilang.

Saat Edward jatuh ke dasar laut karena diperebutkan anak-anak yang menginginkannya di kapal, Edward merasa bukan anak-anak itu yang membuangnya, tapi Pellegrina. Ketika ia jatuh ke dasar laut, ia masih  beranggapan suatu hari ia akan bertemu Abeline lagi. Tapi hari demi hari, tak ada yang terjadi. Kepalanya masih terbenam di lumpur dasar laut.

Maka dimulailah perjalanan luar biasa Edward Tulane : dari dasar laut ke jala nelayan, dari puncak gunung sampah ke dekat api unggun gelandangan, dari tempat tidur anak yang sakit keras ke jalan-jalan kota Memphis. Edward melakoni banyak peran, dari menjadi boneka, pengusir burung, boneka penari hingga pajangan di toko reparasi boneka.

Perjalanan menakjubkannya, membawa tubuh porselen Edward menuju tempat-tempat yang berbeda, bertemu dengan orang lain. Yang selalu ada dalam setiap perjalanannya adalah orang yang menyayangi dan ada juga yang membencinya. Edward mengalami patah hati, mirip seorang anak yang kehilangan rasa percaya diri, dari perasaan dicintai hingga tersisih.

Ia menghitung bintang dan menyebutkan nama orang yang mencintainya. Mulai dari Abeline, Nellie, hingga Sarah yang membuat ia bersumpah takkan melakukan kesalahan dengan menyayangi lagi. Perjalanan panjangnya mengantarkannya pada pencarian jati diri. Menemukan arti mencintai dan menyayangi. Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu – bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.

***

Ini pertama kalinya saya baca karya Kate. Awal tahu tentang buku ini setelah ada serial drama Korea yang membawa judul buku ini di scene adegan yang mengharukan. Saya pikir buku ini akan sulit dicari, ternyata Gramedia menerbitkan ulang dalam bentuk yang cantik. Ilustrasinya saya suka sekali. Mirip ilustrasi di buku Beatrix Potter. Saya jadi penasaran seperti apa perjalanan Edward, si kelinci porselen ini. Begitu saya menyelesaikannya dalam semalam, kesan saya untuk karya Kate adalah : Amazing!

Ada adegan si kelinci tua dengan Edward di toko reparasi boneka yang bikin saya pengin tahu visualisasinya dalam bentuk film seperti apa.

“Tidak ada gunanya melanjutkan hidup kalau kau merasa seperti itu. Tak ada sama sekali. Kau harus punya kemauan. Kau harus dipenuhi harapan. Kau harus ingin tahu siapa yang akan menyayangimu, siapa yang akan kausayangi selanjutnya.” 
“Aku sudah muak dengan soal kasih sayang. Aku tidak ingin disayangi lagi. Terlalu menyakitkan.” 
“Kau mengecewakan aku. Kau sangat mengecewakan aku. Kalau kau tidak punya niat menyayangi atau disayang, seluruh perjalanan ini percuma. Sebaiknya kau lompat saja dari rak ini sekarang juga dan biarkan dirimu hancur jadi jutaan keping. Lupakanlah. Lupakanlah semua sekarang.”


Dan waktu si kelinci tua menawarkan untuk mendorong Edward ke bawah rak, saya ketawa. Haha. Ini epic! Karena kedua kelinci itu bahkan tak bisa bergerak sedikit pun, apalagi mendorong temannya. Seperti kenyataan yang paling dibenci Edward, ia hanyalah sebuah “benda”. Ya, benda mati.

Tak pernah saya menemukan kisah seindah ini, perasaan campur aduk yang membuat saya jadi merasakan perasaan Edward. Rasa sunyi yang menghimpit perasaan Edward adalah akumulasi dari rasa tak percaya akan cinta dan sayang. Bahwa kelak akan ada yang akan menyayanginya lagi. Meski si kelinci tua di sampingnya berkata dengan lembut,
“Buka hatimu. Akan ada yang datang. Akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”(hlm. 179)
Yang paling mengharukan justru adegan endingnya yang bikin saya pengin meluk Edward. 5 bintang untuk karya Kate! 

Postingan ini diikutsertakan dalam Children's Literature Reading Project

4 comments:

  1. umm.. mesti siapin tisu dulu ngga sebelum baca ini? :-/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Sediain setengah kotak aja, mba Ruri. Bakal banyak nangis di adegan perpisahan.

      Delete
  2. Kak, apa buku ini masih dijual? Hbisx sy sdh cari kmna2, tpi gk pernah nemuin.. Stokx habis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahuku masih ada yang jual. Coba dicari di web online book store seperti bukabuku.com, bukukita.com, parcelbuku.net. semoga ketemu ya. :)

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^