Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

14 January 2015

[Resensi Buku] Tarothalia - Tria Barmawi


Judul Buku : Tarothalia
Pengarang : Tria Barmawi
Penerbit : Gramedia
Terbit : Juni 2007
Tebal : 256 halm.
ISBN : 978-979-22-2928-8
Genre : Metropop

Cerita ini cerita tentang persahabatan, cinta dan indra keenam yang dialami seorang Thalia, anak tengah keluarga Jehan. Walaupun sudah tiga kali dipecat dan belum juga berhasil menemukan pekerjaan yang cocok, tidak pernah terlintas di benak Thalia bahwa ia akan menggunakan indra keenamnya untuk mencari uang. Tapi bujukan maut Bella dan kondisi keuangan yang mendesak membuatnya tergoda. Ia pun menjalankan rencana Bella yang hendak menjadikannya paranormal eksekutif.

Paranormal eksekutif itu harus punya manager, kartu nama dan blazer hitam sebagai identitas yang elegan. Itu kata Bella, yang akhirnya menjadi manager Thalia untuk urusan mengurus jadwal dan mencarikan job. Thalia yang awalnya malas, malah justru menemukan klien-klien ajaib. Mulai dari Alin, Rainy, hingga teman-teman Rainy.

Klien pertamanya adalah bos Bella, bernama Alin. Alin terlibat kasus perselingkuhan dengan seorang paruh baya yang membuat istri si lelaki menjadi dendam padanya. Alin mengalami banyak rasa sakit ketika berurusan dengan dunia mistis. Hingga saran dari Thalia membuatnya berubah pikiran, ia harus berbaikan dengan si istri lelaki itu dan minta maaf karena mengambil apa yang bukan haknya.

Klien keduanya adalah Rainy, sepupu Cassio, teman segedung Bella yang ia temui di jalan. Rainy yang sukses dikerjai oleh orang yang iri padanya. Karena sering pergi dengan Cassio, membuat Thalia merasa nyaman. Mereka pun menjadi dekat dan saling jatuh cinta. Gosip seputar Rainy, penyanyi multitalenta yang sedang menjadi tren merebak. Rainy memiliki konsultan spiritual, seorang Thalia.

Tidak disangka-sangka, bukan saja rencana itu sukses, tapi Thalia pun menjadi seleb baru, karena kliennya sebagian besar adalah para artis. Masalahnya, sejak dulu Thalia tidak pernah punya keinginan jadi selebriti. Yang membuat Thalia kebanjiran job untuk tampil di tv, majalah maupun menangani klien lain yang artis pula.

Sekarang Thalia jadi terjebak di tengah banyak masalah rumit. Klien-klien yang rewel, jadwal kerja yang semakin padat, urusan cinta yang ternyata tidak semulus dugaannya, dan hatinya sendiri yang penuh dengan penolakan. Ditambah lagi perasaan Bella yang sering membuatnya tak nyaman, Thalia menganggap Bella menjadikannya mesin pencetak uang. Kerja banting tulang demi menyelesaikan kontrak yang sudah disepakati dengan klien. Thalia tak menemukan kedamaian seperti sebelumnya. Ia ingin menjadi Thalia yang dulu, biasa saja, menjadi anak biasa dari keluarga Jehan.

***
Hidup seseorang senantiasa dihadapkan pada pilihan. Ketika harus memilih, antara cinta dan persahabatan, antara persahabatan dan karir, antara karir dan suara hati, mana yang akan kaupilih? Memilih tak pernah mudah, bagi seseorang dengan indera keenam sekalipun.

Thalia yang berprinsip tak menggunakan kekuatannya untuk kepentingan pribadi membuat ia salah paham dengan Bella karena mengira ia sudah tahu tentang masa lalu Cassio. Thalia yang santai, bad temper dan pengangguran membuat pembaca  jadi tersentil. Mungkin ada di antara kita yang mirip dengan Thalia, menjadi orang spesial karena pengaruh keturunan. Meski kisahnya berbeda, tapi ada orang tertentu yang memiliki indra keenam. The gift yang sering menjadi masalah karena muncul tiba-tiba. 

“Saya selalu dihantui rasa bersalah setiap melihat klien yang terlalu bersemangat memercayai penglihatan saya. Padahal saya sudah memberi peringatan untuk tidak terlalu menggantungkan diri. Dan saya sudah bilang bahwa apa yang saya ketahui sebelum waktunya belum tentu benar, bisa jadi hanya bisikan setan. Tapi susah sekali membuat orang tidak menggantungkan diri pada saya. Rasanya seperti... menjerumuskan. Saya senang melakukan pekerjan ini ketika saya harus menolong orang yang bermasalah. Tetapi, saya tidak bisa menolak mereka lihat.”

Sebenarnya saya suka sesi konsultasi Thalia dengan gurunya. Setidaknya Thalia berusaha untuk bijak menggunakan kekuatannya, sayangnya pas di ending saya ngerasa gregetan sama Bella. Yang bikin saya gemes karena buat apa Thalia mengalami banyak hal di kisah ini dari awal hingga jungkir balik kalau tetep endingnya enggak asyik. Saya pikir Thalia bakal beneran lepas dari tarot untuk selamanya karena ngerasa dirinya terbebani dengan the gift ini. Tapi fiuh, Bella malah memfasilitasi. Ibarat kata, udah muter nyari solusi buat motong rambut biar keren, eh tetep potongan rambutnya kembali ke selera asal. Yahh, pembaca kuciwaa. >.<

Saya juga suka bagian diskusi ala psikologi tentang sifat man and woman yang bikin pembaca jadi ngerti gimana sih sifat keduanya kalo menanggapi suatu hal. Misal gini :

“Biasanya kalo cewek curhat sama cewek, ujung-ujungnya minta dukungan. Misal si A bilang... aduuh si C ngebetein banget deh, dia ngeharap si B bakal bilang... emang, si C itu nyebelin banget. Terus si A dan si B ini saling mendukung...” 
“Nah, kalo cewek curhat sama cowok, biasanya Cuma curhat pengin didengerin aja. Kalo cowoknya komentar malah didebat. Curhat yang gini pada dasarnya si cewek Cuma mau didengerin dan dihibur doang.”(hlm. 200)

Saya juga salut sama perjuangan Thalia buat berubah jadi wanita karir, buat orang yang berantakan dan nggak pedean macam dia, berubah jadi teratur dengan jadwal itu perlu pembiasaan. Trus, Cassio ini tipe lovable, cool, supel dan ganteng. xD Sayangnya playboy cap kaki kuda *eh*, jadinya ada baiknya emang kalo Cassio -si guling penyot- ini jadian samaa.... *rahasia* :p *no spoiler* Intinya, kisah persahabatannya keren, kisah cintanya juga, yang bikin miris justru ending buat nyari solusi the gift ini. Saya ngarep kalo lebih baik the gift ini diilangin aja. Huhu. *bisa kan, mba Tria?* xD


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^