22 December 2021

[Resensi Buku] Downpour by Ghyna Amanda : Saat Hujan Membuatmu Jatuh Cinta

Review buku romantis


Judul buku : Downpour

Pengarang : Ghyna Amanda

Penerbit : Gramedia

Terbit : 2021

Tebal : 256 halaman

Genre buku : young adult

ISBN : 9786020653617

Rating buku : 4,5/5 ⭐

Harga buku : Rp 76.000

Baca ebook di Gramedia Digital


❤️❤️❤️


Sinopsis Buku Downpour - Ghyna Amanda : 


Yulenka terpaksa mengikuti keinginan ayahnya. Setelah sedari kecil homeschooling, dia harus masuk sekolah umum saat SMA. Di tengah ketidakyakinan bahwa banyak hal menarik yang akan ditemukannya di SMA, Yulenka bertemu Regulus.


Si Rubah Gurun itu membuat Yulenka menantikan hari-harinya di sekolah. Meski hobi tidur di perpustakaan, ternyata cowok itu terkenal sebagai siswa terpandai. Dengan tungkai kaki yang lemah, Regulus selalu berada di dekat Yulenka. Cowok itu menemaninya menghadapi tantangan menghadapi teman sekelas, para senior, bahkan guru-guru di sekolah.


Saat menghadiri pameran pendidikan universitas, Yulenka akhirnya mengetahui satu fakta yang tanpa sengaja disimpan Regulus. Dia jadi merasa tidak mengetahui sedikit pun tentang cowok yang sering kali mengejutkannya saat hujan deras datang itu.


Ketika Yulenka tercebur ke kolam, terungkap rahasia lain dari Regulus. Rahasia yang sulit untuk diterima Yulenka. Rahasia yang mengantarkannya pada keputusan apakah akan tetap mendampingi atau justru meninggalkan cowok itu.


❤️❤️❤️


Resensi Buku Downpour - Ghyna Amanda : 



Rubah gurun. Yulia menjuluki cowok yang tertidur di depannya dengan nama itu. Baginya, wajah cowok itu mirip Fennec Fox, si rubah gurun, hewan khas utara Afrika yang baru saja dibaca di ensiklopedia. Rubah gurun bisa bertahan hidup hingga 14 tahun di penangkaran. 



Yulenka alias Yulia sangat excited dengan orang di hadapannya. Karena ini pertama kalinya ia melihat ada anak sekolah tertidur di perpustakaan. Petugas perpus bilang bahwa anak itu paling pintar di sekolahnya, hingga punya keistimewaan boleh tidur di perpustakaan. 


Tak disangka, perkenalan Yulia berlanjut karena ponselnya tertukar dengan ponsel cowok itu. Demi mengembalikan ponsel itu, Yulia harus ke rumah untuk memenuhi janjinya. 


Sejak saat itu, Yulia dan Regulus saling dekat dan jadi sahabat. Regulus bahkan menyatakan cinta pada gadis itu dengan menciumnya di hari saat hujan turun dengan derasnya. 


Yulia bingung dengan perasaannya saat Bellani, tante Regulus, bilang bahwa Regulus jatuh cinta dengan gadis itu. 


"Aku menyukainya. Dia baik. Dia aneh dan aku biasanya dekat dengan orang-orang aneh. Dia juga pintar. Dia tinggi. Dia seperti rubah gurun. Aku jarang mengatakan ini pada orang lain selain ayahku, tapi dia juga tampan. Tidak. Aku merasa tidak lagi menyukai Regulus hanya karena alasan-alasan tersebut. Justru karena aku menyukainya, alasan-alasan itu ada." 


Tapi seumur hidupnya, ia hanya dekat dengan orang-orang yang ada di sekitar rumahnya. Jadi, ketika Yulia jatuh cinta dengan teman sekolahnya, ia tak tahu harus curhat pada siapa. 


Satu-satunya teman di sekolah, Nadine justru menjauhinya karena kesalahpahaman dengan Rendra dan Nirmala, dua kakak kelas di ekskul pecinta alam. 


Sedangkan Tiara, tetangga rumahnya sedang sibuk dengan anaknya. Tiara pun jadi tempat curhat Yulia. Hingga Tiara memberinya saran agar pacaran dengan Regulus, jika Yulia yakin dia jatuh cinta dengan cowok itu. 


Yulia makin dekat dengan Regulus, hingga akhirnya mereka pacaran selama 5 bulan. Tapi, tak ada yang diketahui Yulia tentang siapa sebenarnya Regulus. 


Kenyataan tentang siapa Regulus dan apa latar belakangnya sekolah di SMA tempat Yulia sekolah adalah kenyataan yang menghantam dirinya. 


Yulia sangat shock dengan info yang diterimanya, bahwa Regulus adalah anak jenius yang sudah lulus kuliah S2 di usia yang sangat muda, karena Regulus ikut kelas percepatan sekolah. 


Ada lagi info yang bikin Yulia shock, Regulus ditemukan sangat berantakan di rumahnya, pasca ia menghilang di pesta ultah Nadine. 


Saat itu, Regulus melihat Nadine mendorong Yulia hingga terjatuh di kolam renang hotel. Regulus yang panik malah menghilang hingga berhari-hari. 


Saat ditemui di rumahnya, Yulia baru sadar bahwa ucapan Nadine tentang Regulus membuatnya makin terkejut. 


Regulus yang ia kenal 5 bulan ini bukanlah Regulus yang ditemuinya di rumahnya. Cowok itu berubah menjadi orang lain. Sikapnya sangat defensif bahkan menyakiti diri sendiri. Hingga berhari-hari, Bellani, tantenya harus mengurus Regulus yang sakit traumanya kambuh dan masuk rumah sakit jiwa. 


Lalu, dapatkah Regulus dan Yulia kembali seperti dulu? 


❤️❤️❤️


Menurut saya :  


Downpour artinya hujan deras. Di novel ini banyak kejadian yang dialami oleh para tokohnya dikisahkan melalui banyak hal saat hujan deras. 


Misalnya saat Regulus dan Yulia bertemu, saat mereka jatuh cinta, saat Yulia dan Regulus bertengkar. Bahkan yang paling parah saat perpisahan terakhir yang membuat Yulia sangat sedih dan tak bisa berbuat apa-apa, selain diam di tempat dan melihat Regulus menghilang. 


Awal baca novel ini saya mengira bakalan ada kisah cinta romantis ala anak remaja pada umumnya. Sampai akhirnya di bab pertengahan baru, baru ketahuan identitas Regulus. Ya… siapa dia. Kenapa dia bisa ada di sekolah itu. Bahkan kenapa dia diam saja di perpustakaan saat anak-anak lain sedang belajar di kelas.


Awalnya, Regulus digambarkan sebagai sosok male lead yang sempurna. Anak cerdas yang bisa melakukan trik IT, benerin jaringan komputer yang ngadat, ngehack kamera CCTV sekolah, bikin presentasi untuk MIT dan bantuin jadi mentor anak-anak kelas lain. 


Tapi ada satu kelemahan Regulus yaitu mudah panik di keramaian. Rasa paniknya membuat dia kehilangan kontrol pada dirinya. Bahkan, ia menghilang begitu saja saat diajak nonton bioskop. 


Regulus juga terlihat tidak normal saat ia tertidur di perpustakaan, bahkan tidak melakukan apa-apa selain tidur. 


Ia tidak membaca buku, selayaknya anak-anak saat main ke perpus. Tapi justru numpang tidur. 


Belakangan baru diketahui bahwa Regulus mengalami banyak gangguan kecemasan, dan itu berpengaruh pada pola tidurnya. Ia tidak bisa tidur di malam hari, akhirnya memilih numpang tidur di perpus yang sepi. 


Karakter Yulia digambarkan tulus, sangat antusias dengan sesuatu, tidak suka sekolah umum, lebih memilih homeschooling setelah berhenti sekolah kelas 3 SD. Bahkan, Yulia juga punya trauma tersendiri tentang hujan. Ia tidak suka hujan deras. Karena membuatnya diam di tempat dan tak bisa melakukan apapun. 


Yulia bisa dibilang anak pemberontak karena sejak kecil terbiasa dengan sistem sekolah yang lebih fleksibel. Bukan Sekolah umum yang harus tunduk dengan berbagai aturan yang mengungkung dirinya. 


Yulia dan Regulus berbeda dari remaja lain yang hidupnya normal saja. Mereka melewati hal-hal yang tak dialami anak seusianya. 


Ya… Salah satunya adalah trauma masa lalu. Yulia kehilangan ibunya saat kecil, sedangkan Regulus kecelakaan hingga mengalami trauma. 


Mereka menikmati kehidupan anak-anak hingga remaja dengan cara yang berbeda. Regulus tenggelam dalam asyiknya dunia sekolah yang sangat membuatnya kecanduan. Belajar adalah passionnya sekaligus healing. 


Sedangkan Yulia menikmati kebebasan sekolah selama ia homeschooling. Satu-satunya alasan kenapa ia masuk sekolah umum adalah agar ia mendapat pengalaman seperti remaja seusianya. Sekaligus juga punya teman seumuran yang sama-sama menikmati hidup sebagai remaja normal. 


Kalau dilihat, keduanya punya kesamaan ya. Tidak melewati hidup remaja secara normal. Tapi bukan berarti tidak menikmati hidup. 


Hanya saja, yang jadi perhatian saya justru melihat Regulus yang jadi stress itu, saya jadi mikir kalau anak-anak jenius yang mengikuti percepatan sekolah itu bikin kehidupan sosial dan mental mereka tidak stabil. 


Hmm… Ya, nggak menyalahkan juga sih. Soalnya kalau anaknya cerdas tapi dibiarin sekolah di situ aja malah nggak berkembang. 


Bakat anak genius memang harus disalurkan dengan baik. Tapi anak jenius itu kalau ditempatkan di lingkungan yang tidak seusianya malah jadi awkward, kan? 


Anak jenius itu istimewa, dan perlu perlakuan yang khusus juga. Seperti yang dilakukan Bellani yang memilih menggunakan berbagai cara yang berbeda agar kondisi mental Regulus tetap stabil.


❤️❤️❤️


Anyway, saya malah penasaran kenapa karakter kakak kelas seperti Rendra dan Nirmala nggak terlalu digali. Mereka hanya numpang lewat sebentar di bagian bab awal, lalu muncul lagi di bagian akhir. Ibarat cuma tokoh pelengkap. 


Meskipun konflik yang terjadi bisa dibilang salah paham saja, nggak yang besar banget. Tapi kerasa dong efeknya buat Yulia karena dia jadi nggak punya teman selain Regulus di sekolah. 


Yang bikin saya penasaran malah kenapa endingnya jadi terkesan terburu-buru. Seolah penulis lebih memilih main aman agar bisa menyelesaikan konflik yang terjadi pada Regulus dan Yulia. 


Endingnya emang bikin saya merasakan kehampaan. Kayak tiba-tiba konflik Regulus sudah ada di puncak, masalahnya sangat besar sampai nggak bisa membayangkan Regulus akan seperti apa nantinya dengan kondisi mental seperti itu. 


Lalu tiba-tiba boom! 


Masalah selesai dengan begitu saja. Tiba-tiba sudah ada ending dan masuk ke epilog. 


Ya, memang benar sih, ada yang bilang bahwa ketika kita dekat dengan orang yang sakit secara kejiwaan, kita nggak bisa berbuat apa-apa selain support mereka. 


Tapi... saya penasaran, apakah Yulia adalah pemicu masalah yang lebih besar ya? Jadi kalau Yulia nggak hilang dari hadapan Regulus, anak itu nggak akan stabil emosi dan jiwanya? Wow. Seram juga ya! 


❤️❤️❤️


Saya pernah nggak sengaja terjebak juga dalam kasus seperti Yulia. Kenal dengan orang yang mentalnya tidak stabil karena lelah mengurus orang sakit selama bertahun-tahun. Orangnya sering curhat sama saya setiap malam, bahkan sering telpon hingga tengah malam. 


Saya pernah cerita ke teman tentang masalah itu, dan solusi yang dikasih teman saya itu cuma satu : "Menjauhlah dari dia. Kamu butuh pikiran yang jernih untuk tetap bisa nulis. (karena kerjaan saya berhubungan dengan menulis)"


Intinya, saya mulai merasa terganggu dengan cerita-cerita yang dikisahkan karena muternya disitu-situ aja, bahkan bikin kepala saya jadi pusing banget. 


Ya… Akhirnya saya beneran menjaga jarak. Menghilang gitu aja. Mirip dengan Regulus yang menghilang dari hidup Yulia 


Intinya begitulah. Huhu


Jarak ternyata jawaban terbaik untuk masalah yang serumit itu. Bukan karena nggak mau mendengarkan cerita orang lain ya, tapi kalau kita sudah kewalahan gimana dong? 


Yang dibutuhkan mungkin psikolog atau psikiater untuk masalah tersebut. 


Ya… Karena saya sebagai orang awam juga nggak bisa bantu kalau orangnya sendiri nggak mau dibantu, alias masih suka ungkit masa lalu yang sebetulnya penyelesaiannya simple, tapi jadi rumit banget. 😌


❤️❤️❤️



Novel young adult dengan tema yang unik ini bisa dibilang terobosan baru ya. Baru kali ini saya baca tentang novel untuk kalangan young adult (dewasa muda) usia 17 an yang temanya sangat berat. 


Tema novel mental illness memang susah untuk dipahami jika tidak mengalaminya sendiri, atau paling tidak kita perlu juga bersimpati kepada para tokohnya di novel itu. 


Dengan melihat sudut pandang dari para tokohnya dalam novel Downpour karya Ghyna Amanda, saya jadi ikut bersimpati dengan apa yang dialami para tokohnya. 


Berdamai dengan diri sendiri ternyata nggak semudah itu ya. Apalagi yang mengalami anak remaja, di mana di usia itu harusnya mereka masih menikmati hidup. Bukan merasa terbebani dengan hidup yang berat. 


Saya suka endingnya, meskipun bikin saya awalnya merasa, "Hah? Kok endingnya gini ya?" Tapi yaudahlah ya, hidup harus terus berjalan dan hidup akan mengajarkan banyak hal pada kita. Tinggal kita mau legowo atau tidak melewati segalanya. 


Jadi, tersenyumlah. Bisa jadi hidup hari ini akan lebih ringan kalau kita lebih ikhlas menjalaninya. 😍❤️


Nah, selamat membaca! Happy reading! 😉


❤️❤️❤️


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^